Budaya Betawi yang Terlupakan

Betawipost.co.id-jakarta.


Jaman dulu ada beberapa kesenian yang pernah memberi warna pada Batavia. Sebut saja Keroncong Batavia, Wayang Senggol, dan Jipeng. Mempertanyakan bagaimana bisa, folklor Betawi tak pernah terangkat lagi. Tentu saja yang tersebut di atas tak seberapa, karena sebagai kota, Batavia yang berkembang hingga Jakarta ini mewariskan berbagai jenis kebudayaan. Kekayaan yang tak akan habis digali, kemudian dikelola, dipertahankan, diperkenalkan kembali pada khalayak, kepada generasi penerus.

Berbagai jenis warisan tak berwujud itu (intangible), jika disadari dengan sepenuh hati oleh pihak berwenang, merupakan kekayaan dan kekuatan Jakarta dalam rangka menemukan kembali akarnya, kemudian mengangkat kembali semua yang terlupakan, semua yang nyaris mati obor bahkan yang sudah benar-benar tertelan oleh apa yang disebut pembangunan dan perkembangan kota.

Berikut ini adalah akan saya paparkan beberapadari banyaknya budaya betawi yang hampir terlupakan oleh masyarakat.

Keroncong Batavia
Keroncong adalah sebuah kesenian yang memiliki sejarah panjang dan penuh dengan dinamika dan pertentangan. Penelusuran sejarah keroncong dimulai dari abad ke-17, ketika itulah keroncong pertama kali muncul di Batavia yaitu di Kampung Tugu. Dari Kampung Tugu, keroncong kemudian menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kota Batavia. Pada masa-masa selanjutnya, keroncong mengalami perkembangan dan bercampur dengan unsur-unsur budaya lain yang ada di Idonesia.

Keroncong pernah dianggap sebagai lagu-lagu pujian di satu masa, lalu di masa yang lain dianggap sebagai pembangkit rasa cinta tanah air dan semangat kebangsaan. Sekarang ini, masyarakat umum mengenal keroncong sebagai sebuah kesenian musik khas Indonesia yang memiliki irama yang dinamis, melodius dan tehnik bernyanyi dengan cengkok khusus, dibawakan oleh para pemain musik dan penyanyi yang selalu berpakaian sopan dan resmi serta tidak banyak gaya dan gerak sehingga terkesan kaku. Banyak kalangan yang menganggap keroncong adalah musik untuk orang tua. Karakter seperti itu, menurut penelitian sejarah, adalah sama dengan karakter keroncong yang dijumpai pada jaman Jepang, tapi berbeda dengan sebelum jaman Jepang. Sebelum jaman Jepang, keroncong berkarakter ‘liar’ serta pelaku juga penggemarnya adalah kaum muda dan remaja.

Dalam sejarah perkembangannya, dinamika musik keroncong, perubahan teknis musik, sifat, fungsi dan posisinya di masyarakat, tidak terlepas dari adanya pertentangan dan polemik terutama pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1944. Dalam tulisan ini akan dilihat bahwa ada pihak yang menjadi ‘korban’ kebijakan budaya yang dilakukan pemerintah pendudukan Jepang.

Musik Keroncong di Indonesia

Penelusuran sejarah keroncong dimulai dari sebuah wilayah di Batavia yang bernama Kampung Tugu. Sejak pertengahan abad ke-17, di Kampung Tugu terdapat segolongan masyarakat yang mempunyai hubungan erat dengan negeri Portugis. Pada awalnya dulu mereka disebut ‘Black Portuguese’. Beberapa pendapat mengatakan bahwa ’Black Potuguese’ ini sebenarnya adalah orang-orang bangsa Moor, orang-orang Islam yang menguasai semananjung Iberia (Portugis-Spanyol)selama abad 7 hingga abad 15, yang dibaptis Katolik setelah persekutuan raja-raja Katolik (Los Reyes Catolicos) merebut kembali kekuasaan di Iberia pada akhir abad ke-15[1][1]. Keadaan politik yang diskriminatif membuat bangsa Moor keluar dari Portugis dengan ikut pada kapal-kapal dagang Portugis sebagai budak hingga sampailah mereka di Batavia sekitar awal abad ke-17. Ketika Batavia direbut oleh VOC, bangsa Moor termasuk yang menjadi tahanan VOC. Setelah beberapa tahun ditahan, mereka kemudian dibebaskan dan disebut kaum mardijkers.(rd)

1 thought on “Budaya Betawi yang Terlupakan

  1. I just want to mention I am just new to blogging and site-building and absolutely enjoyed this web blog. Likely I’m likely to bookmark your website . You certainly come with good stories. Regards for sharing your web page.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.